Mencari Hidayah
Cinta Saja Dicari, Masa Hidayah Hanya Ditunggu
Oleh: Maya
Zaman semakin porak-poranda dengan keadaan umat yang sudah tersesat jauh dari koridor syari'at Islam. Di mana sistem sekuler saat ini memisahkan agama dari kehidupan, membuat umat kehilangan arah dalam menjalankan kehidupan yang sesuai syariat.
Ibarat seekor ikan yang dipaksa hidup di daratan akan kesulitan untuk bernapas.
Allah, Sang Pencipta manusia, memberikan kebebasan untuk menentukan pilihan hidup yang akan mereka pilih sebagai pedoman dan tolok ukur kehidupan di dunia. Apakah mereka akan memilih jalan iman (kepercayaan dan kepatuhan) kepada-Nya, atau jalan kufur (penolakan dan dosa) terhadap-Nya. Baik hukum serta sistem-Nya. Namun, setiap pilihan tersebut akan membawa akibat yang berbeda di akhirat.
Adakah kita pernah merenungkan, bahwasanya semua keadaan itu adalah tanda dari Allah supaya kita ingat kepada-Nya?
Kebisingan dan kesibukan kehidupan dapat membuat kita lupa dalam sekejap. Karena itu, Allah memberikan sedikit teguran kepada kita agar kita muhasabah. Ini mungkin menjadi langkah awal untuk hidayah bagi mereka yang selama ini berada jauh dari-Nya.
Sebenarnya, hidayah itu setiap hari datang menghampiri, tapi kita mengabaikannya karena kesibukan dunia.
Banyak orang bilang menunggu hidayah Allah untuk hijrah atau menjadi hamba yang lebih taat. Sejatinya, hidayah itu harus dicari atau dikejar, bukan hanya ditunggu dengan santai berharap hidayah datang.
Kehidupan kita tidak akan jadi baik dengan sendirinya, tetapi kita yang perlu berusaha untuk membuat perubahan. Dalam surah Ar-Ra'd: 11, Allah berfirman yang artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
Dalam ajaran Islam, hidayah merupakan anugerah dan petunjuk dalam bentuk kepercayaan yang Allah berikan kepada manusia. Hidayah dapat diartikan sebagai pembukaan pikiran yang mendukung individu untuk mengerti dasar keberadaan, maksud kehidupan, dan koneksi mereka dengan Sang Pencipta.
Hidayah ada dua, yaitu bayan wal irsyad (penjelasan dan bimbingan) diberikan kepada Nabi dan Rasul. Mereka menerima petunjuk ini dan berkewajiban untuk menyampaikannya serta menguraikan maksudnya kepada umat yang hidup bersama mereka pada waktu itu.
Selanjutnya, hidayah taufiq, yang merupakan petunjuk dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, tanpa batasan siapa pun, asalkan mereka memiliki keinginan dan kesungguhan untuk menerima petunjuk dari Allah.
Lalu, apa sarana untuk mendapatkan hidayah taufiq tersebut? Terdapat dua sarana, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Kita seharusnya selalu dekat dengan Al-Qur'an, baik melalui membaca, memahami, mendalami, dan mengamalkannya. Selain itu, pelajari Sunnah Nabi Muhammad SAW dengan sebaik-baiknya, mencakup ucapan, tindakan, dan ketetapannya.
Berdasarkan pendapat Ibnul Qoyyim, agar memperoleh petunjuk itu, setiap individu memiliki tiga jalur yang dapat dioptimalkan untuk mencapai petunjuk tersebut. Satu, melalui sesuatu yang didengar di telinga. Dua, melalui sesuatu yang dilihat dari matanya. Tiga, melalui sesuatu yang dipahami dengan hatinya.
Ciri-ciri orang yang mendapat hidayah Allah:
Pertama, mereka merasakan kemudahan dalam menjalankan kewajiban kepada Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
Ketiga, mereka selalu konsisten dan tetap teguh. Ini berarti mereka memegang erat prinsip-prinsip iman yang mereka anut.
Keempat, aktif dan penuh semangat dalam menghadiri majelis ilmu untuk menambah pengetahuan dan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kelima, kehidupan mereka dipenuhi dengan rasa malu, baik kepada Allah maupun kepada sesama makhluk-Nya.
Sebenarnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk menerima hidayah. Tapi banyak yang tidak ingat bahwa perlu usaha untuk meraihnya.
Hidayah ibarat sebuah kapal yang tidak dapat berlayar di lautan yang kering, seperti tamu yang tidak akan masuk sebelum dipersilakan masuk oleh tuan rumah.
Setiap musibah yang menimpa kita, pikirkan dan segera mintalah ampun kepada Allah. Bagi mereka yang masih lupa, tinggikan pujian dan syukur kepada Allah sebanyak mungkin. Karena Dia masih memberi kita peluang untuk memperbaiki diri sesuai syariat.
Di dunia ini, kita hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup, dan umur kita pun tidaklah panjang. Sewaktu-waktu ajal menjemput. Saat kita meninggal, segalanya akan berakhir, dan hanya amal baik yang akan menemani kita.
Mari dengan sepenuh hati kita menerapkan Islam secara kaffah, yang akan menolongmu di akhirat kelak.
Wallahu a'lam bishawab.
COMMENTS