Apakah semua agama sama?
Apakah semua agama sama?
Oleh : Cokorda Dewi"Semua agama adalah sama", pernyataan ini sering kita dengar di tengah masyarakat, gak sedikit juga dari kalangan Muslim berpendapat demikian. Mereka beranggapan bahwa sama-sama percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa, hanya saja cara ibadahnya yang berbeda, dan sama-sama mengajarkan kebaikan antar hubungan manusia.
Dipandang dari sisi Ghorizah al tadayun (naluri untuk mengkultuskan sesuatu yang mempunyai kekuatan diluar kekuatan manusia yang serba terbatas), maka pendapat semua agama adalah sama, sepintas akan ada benarnya. Apalagi ada pertimbangan rasa toleransi antar umat beragama. Sehingga turut membenarkan keyakinan selain Islam, dan menganggap sama. Sama-sama menyembah Sang Pencipta, hanya sebutannya yang berbeda-beda, sama-sama mengajarkan kebaikan antar sesama manusia, alam semesta, juga makhluk lainnya.
Bagaimana Islam memandang fenomena ini?
Dalam Islam, sesuai dengan Firman Allãh SWT QS. Ali Imron : 19, bahwa Islam adalah agama yang benar/haq, satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allãh SWT, karena datangnya dari Allãh sebagai agama penutup, agama yang paling sempurna.
Dalam Firman Allãh SWT QS. Al Ma'idah : 3, bahwa Allãh menyempurnakan agama untuk manusia, dan telah diridhoi Islam sebagai agama untuk manusia.
Pemahaman tentang Sang Pencipta antara Islam dengan keyakinan lainnya, sangat jauh berbeda. Dalam Islam, diharamkan menyekutukan Sang Pencipta atau menyembah selain Allãh. Sedangkan dalam keyakinan lainnya justru sebaliknya, yaitu menyekutukan Sang Pencipta dengan sesembahan lainnya.
Hanya Islam yang menyembah kepada Sang Pencipta, Dia-lah Allãh SWT yang ahad/tunggal. MenyukutukanNya adalah merupakan dosa besar, yang hanya akan mengantarkan pada azab yang pedih baik di dunia, maupun di akhirat.
Jadi jika hanya karena atas dasar toleransi menyamakan semua agama, maka dalam Islam ada batasan toleransi. Jika hal tersebut menyangkut aqidah, maka tidak ada istilah toleransi didalamnya.
Sebagai Muslim, kita wajib hanya menyembah Allãh SWT, hanya memohon pertolongan kepada Allãh saja, bukan kepada yang lainnya. Allãh sebagai Al Kholiq (Sang Pencipta), sebagai Al Mudabbir (Sang Pengatur), maka kita haruslah tunduk, taat, dan taqwa pada Allãh, dengan mematuhi seluruh aturan yang ditetapkan oleh Allãh SWT dalam syari'at Islam, serta menjauhi segala larangan dari Allãh SWT, termasuk dilarang meyakini atau membenarkan keyakinan selain Islam. Karena manusia diciptakan sesungguhnya adalah hanya untuk beribadah kepada Allãh SWT (QS. Adz Dzariyat : 56). Kita juga dilarang turut campur dalam urusan keyakinan lainnya, dilarang mencela keyakinan lainnya, sebagaimana Firman Allãh dalam QS. Al Kãfirun.
Dalam Al Qur'an, Allãh mengabarkan dan menjelaskan bahwa manusia tidak bisa melihat Allãh SWT secara langsung, dengan penginderaan manusia yang serba terbatas. Akan tetapi manusia dapat merasakan dan melihat tanda-tanda kebesaran Allãh SWT, contohnya: susunan syaraf dalam tubuh yang begitu rumit dan berpusat pada otak sebagai penggeraknya. Tentulah hal ini ada yang menyusun dan mengaturnya. Kita melihat gugusan bintang-bintang, planet-planet di ruang angkasa yang berputar dan bergerak pada porosnya masing-masing secara beraturan, dan tanpa berbenturan. Semua ini pastilah ada yang menyusunnya dan mengaturnya sedemikian rupa.
Kesemuanya ini diatur oleh Allãh SWT sebagai Al Mudabbir, sebagaimana dalam Firman Allãh QS. Yãsīn : 40, yang artinya "tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."
Dan masih banyak lagi ayat-ayat dalam Al Qur'an yang mengabarkan tentang kebesaran Allãh SWT.
QS. Ali Imron : 83, yang artinya
"Mengapa mereka mencari agama selain agama Allãh? Padahal hanya kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan."
QS. Ali Imron : 85, yang artinya
" Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. "
Jadi jelaslah, bahwa tidaklah sama semua agama itu. Dan hanya Islam adalah agama yang benar di sisi Allãh. Selain Islam, maka segala amal ibadahnya akan tertolak di sisi Allãh, dan hanya menjadi kesia-siaan belaka di akhirat, serta termasuk orang-orang yang merugi.
Wallãhu'alam bish showab
COMMENTS