Dana pemilu pun sangat besar bertrilyun-trilyun. Kalau memakai logika sederhana apa salahnya pejabat yang lama dipertahankan hingga corona usai. Daripada harus memaksa diri menghabiskan dana untuk pemilu sedangkan dana pemberantasan Corona masih sangat diperlukan.
Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)
Di suatu negeri antah berantah proses demokrasi dipaksakan di tengah pandemi. Masyarakat heran di saat banyak tempat berubah dari zona hijau ke kuning, merah bahkan hitam pekat, pemilu tetap akan digelar untuk memilih pejabat daerah.
Dana pemilu pun sangat besar bertrilyun-trilyun. Kalau memakai logika sederhana apa salahnya pejabat yang lama dipertahankan hingga corona usai. Daripada harus memaksa diri menghabiskan dana untuk pemilu sedangkan dana pemberantasan Corona masih sangat diperlukan.
Sebelum Corona, Korupsi menjamur akibat mahalnya biaya politik. Persaingan antar calon pemimpin di tingkat daerah mau pun pusat menyedot banyak anggaran.
Akibatnya yang gagal di kontestasi pemilu banyak yang gila sedangkan yang lolos menjadi pemenang tak sedikit pula yang diciduk lembaga pemberantasan korupsi. Terlibat KKN untuk membayar biaya kampanye.
Mengapa proses demokrasi harus mahal? Ini erat kaitannya dengan teori Trias Politica. Kala itu, Pemikir Barat yang tersohor semacam Montesquieu dan John Locke ingin memberantas kekuatan negara teokrasi yang dianggap menginjak-injak hak rakyat yang lemah.
Kekuasaan raja yang monarki absolut distempel sah oleh agama. Akibatnya kekuasaan monarki ini menghasilkan korupsi raja, keluarganya, para bangsawan dan para rohaniawan.
Adanya Trias Politica memecah kekuasaan politik menjadi tiga yaitu legislatif, eksekutif dan legislatif agar tidak terjadi korupsi absolut. Trias Politica dibentuk agar ketiga kekuatan ini saling mengontrol dan mengawasi. Awalnya kelihatan bagus, namun seiring waktu Trias Politica menghasilkan korupsi era baru.
Banyak koruptor yang terciduk di era modern karena persaingan untuk menduduki kursi Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Dalam catatan pemburuan koruptor, mayoritas koruptor malah berasal dari orang-orang yang berkuasa dalam Trias Politica.
Trias Politica tiada berguna dan ditunggangi oleh kepentingan kapitalisme. Para kapitalis membiayai banyak calon anggota legislatif untuk menduduki dewan. Sebagai imbalannya, para penguasa baru ini menggolkan UU atau proyek yang memberikan ruang seluas-luasnya kepada para Kapitalis untuk bertambah kaya, misalnya UU SDA dan Mineral.
Banyak anggota dewan yang korupsi demi membayar biaya politik kampanye nya yang begitu tinggi. Mereka harus melakukan itu walaupun ada potensi ditangkap aparat penegak hukum. KKN di era Trias Politica semakin menjadi-jadi melebihi era Negara Teokrasi.
Montesquieu Cs. hanyalah manusia biasa yang mengandalkan akal pemikirannya yang terbatas. Ditambah faktor lingkungan yang memberikan kebebasan kepada para filsof Barat memecahkan masalah kerakyatan dan melawan penguasa teokrasi yang tiran. Revolusi industri adalah kebangkitan Eropa sedangkan waktu itu Khilafah Islam sedang dihantam dari internal dan eksternal.
Padahal kalau Montesquieu Cs. mau belajar hukum dan politik dari era kejayaan Islam wa bil khusus Khulafaur Rasyidin maka mereka akan terkesima. Khilafah Islam pada saat itu bukan negara teokrasi tetapi berbasis Ilahi dengan sistem politik yang khas.
Khalifah bukanlah raja yang berkuasa secara absolut dan korupsi absolut. Khalifah tidak menggunakan dalil agama sebagai tameng. Dalam Islam, Khalifah bisa dilengserkan bila melakukan kejahatan terang-terangan (kufran bawahan).
Khalifah bisa diberhentikan oleh Mahkamah Madzhalim jika berlaku sewenang-wenang terhadap umat. Khalifah pun tidak boleh korupsi apalagi memperkaya bawahannya.
Seperti Khalifah Umar bin Khattab ra yang pernah menolak gaji negara dan mengaudit kekayaan para gubernurnya. Khalifah juga tidak pernah menjadikan pajak sebagai pos utama pendapatan negara seperti yang dilakukan oleh negara teokrasi Barat.
Khalifah bukan makhluk suci dan bisa saja keliru tidak seperti pandangan Barat yang keliru bahwa Raja adalah wakil atau titisan Tuhan. Hasilnya Khilafah pernah memakmurkan dunia selama 14 abad seluas 2/3 dunia.
Khilafah Islam disanjung-sanjung oleh para sejarahwan Muslim dan Non Muslim seperti T.W.Arnold Cs. Jika Montesquieu Cs mau belajar ini tentu mereka tidak akan menelurkan Trias Politica dan dunia bisa diselamatkan dari hegemoni kapitalis dan banyak anggota dewan yang korupsi. Islam akan jadi solusi politik masa depan dunia. []
Bumi Allah SWT, 25 Juli 2020
#DenganPenaMembelaDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan
COMMENTS